cryptodewa.com – Jakarta, 24 Maret 2025 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau IHSG Melemah signifikan pada penutupan perdagangan sesi pertama hari ini, Senin (24/3), dengan koreksi sebesar -2,14% ke level 6.245,13. Penurunan ini menjadi salah satu yang terdalam dalam beberapa pekan terakhir dan menggambarkan kekhawatiran yang meningkat di kalangan pelaku pasar.

Tekanan Jual Dominasi Bursa IHSG Melemah
Dari pantauan perdagangan, tekanan jual terlihat mendominasi hampir seluruh sektor, terutama saham-saham unggulan di sektor perbankan, energi, dan properti. Nilai transaksi mencapai lebih dari Rp6 triliun hanya dalam setengah hari, dengan investor asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp520 miliar.
Saham-saham big cap seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan TLKM mengalami koreksi tajam, menyumbang pelemahan signifikan pada IHSG. Saham sektor energi seperti PTBA dan ADRO juga ikut tertekan, seiring turunnya harga komoditas global akibat kekhawatiran perlambatan ekonomi global.
Sentimen Negatif Global dan Domestik
Beberapa analis menilai pelemahan IHSG kali ini bukanlah tanpa alasan. Tekanan datang dari kombinasi sentimen eksternal dan internal yang mempengaruhi kepercayaan investor:
1. Kekhawatiran Resesi Global
Data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis pekan lalu menunjukkan pelemahan di sektor manufaktur dan jasa. Hal ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed tidak akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat, bahkan berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
2. Ketegangan Geopolitik Timur Tengah
Konflik yang kembali memanas di wilayah Timur Tengah memicu kekhawatiran investor terhadap harga minyak dunia, rantai pasok global, dan stabilitas ekonomi makro secara keseluruhan.
3. Data Inflasi Domestik
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati data inflasi bulan Maret yang diprediksi mengalami kenaikan tajam, seiring efek musiman bulan Ramadan dan jelang Lebaran. Hal ini bisa memicu potensi kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia pada bulan depan.
Analisis Teknis: Potensi Breakdown Level Support
Secara teknikal, IHSG telah menembus support penting di level 6.300. Jika tekanan berlanjut, analis memprediksi IHSG berpotensi menguji level 6.200 atau bahkan 6.100 dalam waktu dekat. Indikator RSI dan MACD menunjukkan momentum negatif yang menguat.
Namun demikian, bagi investor jangka panjang, situasi ini bisa menjadi peluang akumulasi di harga rendah, terutama untuk saham-saham berfundamental kuat yang terdampak secara teknikal.
Saham-Saham yang Paling Tertekan
Berikut ini beberapa saham dengan penurunan terbesar di sesi I:
Kode Saham | Penurunan (%) | Sektor |
---|---|---|
BBCA | -2,30% | Perbankan |
BBRI | -2,75% | Perbankan |
GOTO | -3,10% | Teknologi |
PTBA | -4,00% | Energi |
SMRA | -3,25% | Properti |
Selain itu, saham-saham small cap juga mengalami tekanan, khususnya yang selama ini menjadi incaran investor ritel.
Suara dari Pasar: Investor Waspada, Namun Tidak Panik
Menurut pengamat pasar modal dari Naratama Invest, Rian Suryawan, penurunan ini masih dalam kategori wajar mengingat kondisi pasar global yang sedang tidak stabil. “Memang sentimennya cukup negatif, tetapi tidak ada panic selling seperti yang terjadi saat awal pandemi 2020. Ini lebih ke arah penyesuaian ekspektasi,” ujarnya.
Ia menyarankan agar investor tetap tenang dan tidak mengambil keputusan tergesa-gesa. “Jika Anda investor jangka panjang, ini justru saat yang tepat untuk mulai mencicil beli saham-saham berkualitas dengan diskon,” tambahnya.
Potensi Rebound atau Penurunan Lanjutan?
Pasar saat ini menantikan arah kebijakan The Fed serta data ekonomi lanjutan dari China dan kawasan Eropa. Jika kondisi membaik dan likuiditas tetap terjaga, rebound bisa terjadi dalam pekan ini. Namun, jika tekanan global masih tinggi, IHSG bisa melanjutkan penurunannya hingga level psikologis berikutnya.
Beberapa katalis positif yang bisa mendorong rebound antara lain:
-
Rilis laporan keuangan kuartal I yang solid dari emiten besar
-
Stabilisasi nilai tukar rupiah
-
Intervensi dari investor institusi domestik atau asing
Baca Juga :
- Analisis Kesepakatan Trump dengan Firma Hukum Paul Weiss
- Trading : Atasi Rugi & Bangun Percaya Diri Lewat Sesi 1-on-1
FAQ (Pertanyaan Umum)
1. Apa itu IHSG?
IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) adalah indeks pasar saham yang mencerminkan pergerakan seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
2. Mengapa IHSG bisa turun tajam?
IHSG bisa turun karena berbagai faktor, seperti aksi jual investor, kondisi ekonomi global, data ekonomi domestik yang buruk, atau sentimen negatif lainnya.
3. Apa yang harus dilakukan investor saat IHSG Melemah?
Investor disarankan tetap tenang. Bagi jangka panjang, ini bisa menjadi peluang beli. Namun bagi trader, penting untuk memperhatikan sinyal teknikal dan manajemen risiko.
4. Sektor apa saja yang paling terdampak saat IHSG Melemah?
Biasanya sektor perbankan, properti, dan energi paling cepat terdampak karena sangat sensitif terhadap perubahan sentimen.
5. Apakah IHSG akan terus turun?
Tidak ada yang bisa memprediksi pasar secara pasti. Namun berdasarkan analisis teknikal dan fundamental, IHSG masih punya peluang untuk rebound jika sentimen membaik.
Disclaimer
Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi. Tidak ada bagian dari artikel ini yang dapat dianggap sebagai nasihat investasi. Selalu lakukan riset mandiri atau konsultasikan dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Pasar saham memiliki risiko kerugian.