Cryptodewa.com – Bitcoin kembali ke range harga sebelum pengumuman Donald Trump pada hari Minggu kemarin. Jika mengikuti analisis sebelumnya, kita sudah melihat adanya potensi terbentuknya CME gap, yang menjadi indikator bahwa Bitcoin kemungkinan akan mengalami pullback atau retracement di awal pekan Tariff Trump.
Pada penutupan CME hari Jumat, harga Bitcoin berada di sekitar Rp84.000, sedangkan penutupan kemarin berada di atas Rp90.000. Gap harga ini menjadi salah satu alasan utama mengapa kemungkinan retracement terjadi.

Sentimen Pasar: Tariff Trump dan Reaksi Market
Salah satu pemicu utama volatilitas Bitcoin adalah keputusan Donald Trump terkait Tariff dagang. Trump mengumumkan Tariff sebesar 25% untuk Meksiko dan Kanada, serta Tariff 20% untuk China. Pernyataan ini memicu reaksi negatif di pasar global, termasuk indeks S&P 500 dan Nasdaq, yang sebelumnya dalam tren positif, kini berubah ke zona negatif.
Dampak dari kebijakan Tariff ini menyebabkan ketidakpastian dalam pasar, termasuk dalam aset digital seperti Bitcoin. Ketika sentimen negatif meningkat, Bitcoin memiliki kecenderungan untuk mengalami revisi harga ke bawah sebelum kembali ke tren naik.
Selain itu, pengaruh dari Tariff ini bisa menyebabkan pergerakan lebih lanjut dalam ekonomi global. Jika China memberikan respons dengan menerapkan Tariff balasan, volatilitas pasar dapat semakin meningkat. Bagi investor, ini adalah situasi yang perlu diwaspadai, terutama bagi mereka yang menggunakan leverage tinggi dalam perdagangan kripto.
Analisis Teknikal: Skenario Bullish dan Bearish
Dari perspektif time frame mingguan (weekly), Bitcoin masih belum menunjukkan konfirmasi bullish yang kuat. Panjangnya shadow candlestick menunjukkan adanya reaksi terhadap area krusial. Secara historis, pola ini sering kali mengarah pada kemungkinan harga menguji kembali area shadow tersebut sebelum bergerak lebih lanjut.
Pada time frame harian (daily), Bitcoin mengalami tekanan jual yang cukup agresif. Namun, jika melihat perbandingan dengan S&P 500, Bitcoin masih mampu membentuk higher low, yang berarti masih ada harapan untuk potensi rebound.
Potensi Resistance dan Support Bitcoin
- Resistance utama: Rp100.000
- Support terdekat: Rp84.000 – Rp85.000
Jika Bitcoin mampu bertahan di atas support ini, maka kemungkinan besar harga akan kembali menguji level psikologis Rp100.000 dalam waktu dekat. Namun, jika support ini gagal dipertahankan, Bitcoin berpotensi turun lebih dalam.
Secara teknikal, Fibonacci retracement menunjukkan bahwa area 79% retracement menjadi titik kritis di mana harga Bitcoin mendapatkan penolakan kuat. Ini bisa menjadi indikasi bahwa masih ada ruang untuk penurunan lebih lanjut sebelum Bitcoin kembali mencoba bergerak naik.
Faktor Makroekonomi yang Mempengaruhi Bitcoin
Selain kebijakan Tariff Trump, pekan ini pasar juga akan dipengaruhi oleh beberapa faktor makroekonomi utama:
- Non-Farm Payroll (NFP) – Data ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan rilis akhir pekan ini. Jika data menunjukkan angka yang lebih rendah dari ekspektasi, ini bisa memberikan tekanan tambahan terhadap Bitcoin dan aset lainnya.
- Pernyataan Jerome Powell – Ketua The Fed akan memberikan pandangan terkait kebijakan moneter dan inflasi. Jika Powell memberikan sinyal dovish, pasar bisa bereaksi positif terhadap Bitcoin.
- European Central Bank (ECB) Rate Cut – ECB diperkirakan akan memangkas suku bunga, yang dapat mempengaruhi pergerakan nilai tukar Euro dan aset berisiko lainnya.
- Tingkat Pengangguran AS – Jika tingkat pengangguran meningkat, ini bisa memberikan tekanan pada pasar keuangan secara keseluruhan.
Dengan kombinasi berbagai faktor ini, pergerakan Bitcoin dalam beberapa hari ke depan bisa menjadi sangat volatil. Trader dan investor harus siap menghadapi fluktuasi harga yang lebih besar dari biasanya.
Bagaimana Strategi Trading yang Tepat?
Untuk menghadapi volatilitas saat ini, ada beberapa strategi yang bisa diterapkan oleh para trader:
- Gunakan Stop-Loss dengan Bijak
Stop-loss sangat penting dalam kondisi pasar yang tidak menentu. Menempatkan stop-loss yang terlalu dekat bisa membuat posisi tertutup terlalu cepat, tetapi menempatkannya terlalu jauh bisa menyebabkan kerugian yang besar. Menyesuaikan stop-loss berdasarkan volatilitas saat ini bisa menjadi solusi terbaik.
- Perhatikan Time Frame yang Lebih Besar
Melihat time frame yang lebih besar seperti daily atau weekly bisa memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai tren utama Bitcoin. Jika Bitcoin masih dalam tren naik pada time frame besar, koreksi sementara bisa menjadi peluang untuk masuk di harga lebih rendah.
- Waspadai Berita Ekonomi Global
Seperti yang disebutkan sebelumnya, berita ekonomi seperti Tariff dagang, keputusan suku bunga, dan laporan ketenagakerjaan bisa memberikan dampak besar pada pasar. Mengikuti berita-berita ini bisa membantu dalam membuat keputusan trading yang lebih baik.
- Gunakan Analisis Teknikal dan Fundamental Bersamaan
Menggabungkan analisis teknikal dengan analisis fundamental bisa memberikan hasil yang lebih akurat. Misalnya, jika analisis teknikal menunjukkan support kuat sementara fundamental mendukung kenaikan harga, peluang trading bisa lebih tinggi.
Artikel Terkait :
Apakah Bitcoin Siap Rebound?
Berdasarkan analisis saat ini, Bitcoin masih memiliki peluang untuk rebound, tetapi tetap ada kemungkinan terjadinya tekanan lebih lanjut. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan:
- Jika Bitcoin mampu mempertahankan area support, kemungkinan besar kita akan melihat pengujian ulang level Rp100.000.
- Jika tekanan jual meningkat, Bitcoin bisa kembali turun ke Rp84.000 – Rp85.000.
- Sentimen global masih bergejolak, terutama terkait kebijakan Tariff Trump dan keputusan suku bunga dari bank sentral.
Bagi trader dan investor, pendekatan yang disarankan adalah menunggu konfirmasi pergerakan harga sebelum mengambil keputusan. Jika struktur harga menunjukkan higher high, ini bisa menjadi sinyal untuk entry buy. Sebaliknya, jika harga terus turun, sebaiknya tetap bersikap hati-hati sebelum melakukan pembelian.
Konten ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual aset keuangan. Semua analisis yang disajikan bersifat objektif dan tidak dapat dianggap sebagai sinyal trading. Selalu lakukan riset sendiri dan pertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan investasi.